Number of visitors

Followers

Jumat, 02 Oktober 2009

Gempa

Berita Utama
[ Sabtu, 03 Oktober 2009 ]
Kisah Para Korban Gempa yang Selamat setelah Terjebak di Reruntuhan
Ratna Tertimbun 40 Jam, Friska Terkurung 17 Jam

Inilah kisah para korban yang selamat setelah berjam-jam hingga berhari-hari terjebak dalam reruntuhan bangunan yang ambruk karena gempa di Sumbar, Rabu (30/9).

Iswanto, J.A., Padang

---

SELASA pagi (sehari sebelum gempa, 29/9), Friska Yulianita pamit kepada ayahnya pergi ke Kota Padang. Gadis 22 tahun itu akan mengi kuti pelatihan dari Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kabupaten Pesisir Selatan yang diadakan di Padang.

Keesokannya, Rabu pagi (30/9), Friska mu lai masuk ke Hotel Ambacang, tempat pelatihan tersebut. Acara demi acara pun bergulir hing ga tiba waktu istirahat. Saat itu masuk waktu salat asar. Beberapa saat kemudian, mu sibah pun terjadi.

Gempa yang terjadi benar-benar mengguncang Hotel Ambacang. Para peserta pelatihan yang sebelumnya larut dalam kegembiraan ber ubah menjadi panik diwarnai teriakan his teris. Mereka pun mencari selamat sendi ri-sendiri. Dalam tempo singkat, Hotel Amba cang yang kukuh itu ambruk.

Saat gempa terjadi, Friska berada di lantai dua. Saat itu, suasananya gelap gulita ketika pe cahan beton bangunan menimpa sekujur tu buhnya. ''Setelah tertimpa pecahan beton, saya tak ingat apa-apa. Mungkin saat itu saya pingsan,'' ungkap gadis asal Desa Suranti, Kecamatan Supra, Kabupaten Pesisir Selatan, tersebut.

Beberapa jam kemudian, Friska mulai sadar, namun semua masih terasa gelap. ''Seluruh badan tidak bisa digerakkan, mulut tak sanggup berbicara,'' tuturnya lantas menangis ke sakitan saat ditemui di tempat perawatan di bawah tenda milik RS dr M. Djamil.

Tubuh Friska berhasil dievakuasi Kamis la lu sekitar pukul 12.00. Berarti, dia terjebak da lam reruntuhan gedung yang ambruk di Hotel Ambacang itu sedikitnya 17 jam. Saat di evakuasi, kondisinya sangat lemah. Seluruh ba gian badannya terluka memar dan membeng kak disertai darah menghitam yang sudah mengering.

Siang kemarin, di bawah tenda perawatan ter sebut, udara terasa panas. Sambil meri ngis kesakitan, Friska berkali-kali minta diberi mi num karena sangat haus. Sayang, keluarganya yang men dampingi tak bisa menuruti kemauan Friska. Sebab, Friska hen dak dioperasi. Sebelum ope rasi, dia harus berpuasa.

''Tolong kasih minum, aku haus. Sejak tadi tidak diurusi dan tidak dikasih minum. Tunda saja ope rasinya sampai beberapa hari lagi, aku masih kuat hidup,'' ujar Friska lirih kepada keluarganya.

Hari itu, Friska ditemani Sias (ayah), Erni (ibu), dan Syafrisa (kakak). Keluarga Friska juga tidak mampu berbuat banyak. Semua hanya menunggu perintah dokter.

Dalam kesempatan tersebut, Sias menceritakan, begitu gempa terjadi, dirinya langsung pergi ke Padang untuk mencari tahu kejelasan nasib anaknya. Sejak Ka mis pagi dia mencari anaknya di berbagai rumah sakit. Namun, sa at itu hasilnya nihil.

Akhirnya, dia pulang ke kampungnya dan melihat berita gempa di televisi. Kemarin sekitar pukul 10.00, dia dan keluarga nya melihat wajah Friska ketika diangkat sejumlah anggota TNI dari reruntuhan bangunan.

''Saya yakin tubuh perempuan yang diangkat anggota TNI dalam siaran televisi itu anak saya. Sebab, beberapa kali wajahnya sempat tersorot kamera. Kami seke luarga langsung menangis dan pergi ke RS M. Djamil,'' jelasnya.

Menurut Sias, sampai di RS M. Djamil, dirinya juga masih sulit mencari tempat anaknya dirawat. Hampir dua jam dia mondar-mandir keluar masuk tenda untuk melihat anaknya. Semua itu disebabkan minimnya sumber informasi di tenda darurat.

''Sampai di RS M. Djamil saya sudah mencari Friska. Dua jam keluar masuk tenda juga belum ketemu. Akhirnya, di antara sekian dokter yang saya temui, ada yang memberikan informasi dan langsung mengantarkan ke tempat tidur Friska,'' ungkapnya.

Selamat setelah Tertimbun 40 Jam

Upaya evakuasi korban gempa di Sumatera Barat terus berlangsung. Petugas penyelamat tidak hanya mengangkat korban yang telah tewas, tetapi juga berupaya mencari korban yang masih hidup atau selamat. Itu terutama dilakukan setelah para petugas mende ngar tangisan dan teriakan minta tolong dari reruntuhan sebuah hotel di Kota Padang.

Dalam penyelamatan itu, Ratna Kurniasari Virgo, 19, ditemukan masih hidup. Mahasiswa tahun kedua jurusan bahasa Inggris di Akademi Bahasa Asing Prayoga, Padang, itu berhasil diangkat dari timbunan reruntuhan bangunan kemarin pagi (2/10). Ratna selamat setelah tertimbun selama 40 jam sejak gempa mengguncang Padang Rabu sore lalu (30/9).

Saat ditemukan, Ratna dalam keadaan sadar. Yang dipakainya pun nyaris tidak ternoda. Tim penyelamat menarik tubuhnya setelah mengebor dan membuat lubang di antara reruntuhan. Lantas, Ratna dibaringkan di tandu untuk dibawa ke rumah sakit. Dia mengalami patah tulang.

''Kondisinya baik. Selain sadar, luka-lukanya tak sampai mengancam jiwanya,'' kata Ni ning Rosanti, perawat di RSU dr M. Djamil, Padang.

Petugas penyelamat juga fokus kepada evakuasi di bawah reruntuhan Hotel Ambacang, Padang. Sekitar 100 orang diperkirakan terjebak dan terkurung di bawah puing-puing hotel tersebut. Tim pe nyelamat mendeteksi sinyal para korban yang masih hidup di antara timbunan baja, beton, dan batu bata hotel tiga lantai tersebut.

''Kami mendengar suara-suara orang di bawah puing-puing ba ngunan. Tapi, kerusakan yang parah menyulitkan evakuasi. Kami khawatir nyawa mereka terancam jika digunakan ekskavator untuk membongkar reruntuhan,'' kata Gagah Prakosa, juru bicara tim penyelamat.

Suara-suara tersebut terdengar 44 jam setelah gempa. Itu memunculkan harapan bahwa ba nyak korban gempa yang masih bisa diselamatkan.

Berdasar pantauan Padang Eks pres (Jawa Pos Group), sekitar pukul 15.35 kemarin tim SAR mengeluarkan seorang korban tewas dari reruntuhan dan diusung ke ambulans untuk dibawa ke Rumah Sakit TNI-AD, Tarandam. Sejam kemudian, tim SAR menemukan lagi satu jenazah yang terimpit reruntuhan hotel.

Berdasar informasi dari seorang petugas evakuasi, korban yang berhasil diangkat dari puing-puing Hotel Ambacang hingga pukul 16.40 ke marin baru empat orang. ''Semua dalam keadaan tewas terimpit. Mere ka dibawa ke Rumah Sakit TNI-AD dan RSU dr M. Djamil,'' katanya.

Sebelum terjadi gempa Rabu sore lalu, banyak tamu datang di ho tel itu. Selain menginap, sebagi an tamu menghadiri acara di sana.

Yusrizai, 34, warga Lubukbasung, mengatakan bahwa dirinya menunggu kabar soal nasib ka kaknya, Trisefda, 42, dan saudara kembar nya, Yusrazai, 34. Kedua nya ter jebak dalam hotel. Saat itu, mere ka di hotel tersebut untuk meng ikuti pelatihan agen yang diadakan sebuah perusahaan asuransi. Mereka bersama 85 orang lainnya mengikuti aca ra di ruangan lantai tiga sejak Se nin lalu (28/9).

''Rencananya, Rabu itu (30/9) acara training berakhir dan peserta boleh pulang. Tanpa diduga, ada gempa. Semua panik dan bubar. Tak tahunya, hanya saya yang selamat,'' tutur Yusrizai. Dia belum tahu nasib saudara maupun peserta training yang lain.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar Yosmeri juga kaget dengan gempa Rabu lalu. Saat itu, instansinya meng adakan bimbingan dan penyuluh an bagi pengusaha dan nelayan se-Sumbar di Hotel Ambacang. Se banyak 35 peserta hadir. Terma suk narasumber dari Departemen Kelautan dan Perikanan.

Selama proses evakuasi, Yosme ri mendapatkan kabar bahwa 15 peserta dinyatakan selamat. Sementara nasib 20 orang lainnya be lum diketahui.

Kamis lalu (1/10) Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar menyatakan menemukan 20 korban tewas di hotel tersebut.

Menikah di Tengah Reruntuhan

Kerusakan akibat gempa tak sampai menghentikan rencana pernikahan Linda Wati. Padahal, rumah dan desa (kampung halaman) gadis berjilbab itu di Parak Buruk, Sumatera Barat, tinggal puing-puing.

Setelah dua malam harus tidur di udara terbuka, di samping rumah keluarganya yang hancur, Linda tetap meneruskan rencana perni kah an nya. ''Pernikahan saya tetap ja lan. (Gempa) Ini cobaan Allah. Ka mi telah mengundang sekitar 40 tamu,'' kata gadis 25 tahun dari keluarga petani itu.

Tenda dan kain hiasan telah dipasang untuk pesta pernikahan yang akan berlangsung tiga hari. Ironisnya, sebagian besar bangun an di desanya telah hancur akibat gempa bumi. ''Kami sedang membuat persiapan akhir pernikahan saya saat terjadi gempa,'' cerita Linda. ''Sepupu saya mendekorasi rumah dan panggung untuk pertunjukan musik,'' lanjutnya.

Akibat gempa, rumah-rumah tetang ga Linda tidak tersisa. Semen tara waktu mereka tidur di panggung yang disiapkan untuk pesta per nikahan. Panggung itu harus di bersihkan saat pernikahan. ''Saya bersyukur karena semua keluarga saya selamat,'' kata Linda.

Evakuasi di Tempat Kursus GAMA

Ketika gempa terjadi, ada 45 sis wa yang sedang belajar di kursus pen didikan GAMA di Jalan Prok lamasi, Padang. Ketika dieva kuasi, di antara 45 siswa yang terjebak dalam reruntuhan gedung berlantai tiga itu, 13 orang bisa diselamatkan dalam keadaan masih hidup. "Warga membantu proses evakuasi itu," kata Bripda Wahyu Andika, anggota Poltabes Pa dang, yang ikut dalam proses evakuasi tersebut.

Dia menceritakan, sesaat setelah gempa terjadi Rabu lalu (30/9), dia sedang menuju kantornya. Ketika di tengah perjalanan itu, dia mendengar info lewat panggilan HT bahwa kursus pendidikan GAMA di Jl Proklamasi ikut runtuh. Dia langsung menuju lokasi.

Gedung tempat kursus GAMA punya tiga tingkat setinggi sekitar 10 meter. Tapi, setelah diguncang gempa, tinggi gedung itu hanya tersisa 2 meter dari tanah.

Mulai pukul 18.30 WIB (Rabu, 30/9), Wahyu dibantu enam warga, dua wartawan, dan dua keluarga korban melakukan evakuasi. Proses evakuasi diawali di lantai dua bangunan yang roboh. Terbatasnya peralatan membuat pro ses evakuasi menjadi lambat.

"Rata-rata kaki korban yang dievakuasi terimpit reruntuhan gedung," ungkap Wahyu.

Berdasar pantauan Padang Eks pres, siswa yang kali pertama dievakuasi adalah laki-laki dan dia selamat. Namun, berikutnya ada yang selamat dan ada yang meninggal. Empat siswa yang dievakuasi kali pertama dibopong dengan menggunakan tangan saja dari reruntuhan gedung, lalu setiap mobil yang lewat saat itu dicegat. Pada evakuasi kelima, baru tiba bantuan ambulans.

Hingga pukul 02.30 WIB (Ka mis, 1/10), di antara 19 orang yang bisa diangkat, 13 siswa selamat, 2 meninggal di perjalanan, dan 4 siswa meninggal di tempat. (zil/cr15/jpnn/AP/AFP/dwi/kum)

0 komentar:

Posting Komentar

Ada uneg - uneg? ngapain di simpen, silahkan katakan saja! tapi, NO SPAM!!